Bangunlah Kerinduanmu pada Negeri Akhirat: Pelajaran dari QS. Fathir dan Kehidupan Rasulullah ﷺ

Oleh: Ustaz Dr. H. Muhammad Basran Yusuf, Lc., M.A. 
Disampaikan pada Ta'lim di Masjid Ali bin Abi Thalib, Jumat, 29 Mei 2026

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia, seorang mukmin perlu terus menumbuhkan kerinduan kepada negeri akhirat. Dalam ta'lim yang disampaikan di Masjid Ali bin Abi Thalib, Ustaz Basran hafizhahullah mengajak jamaah merenungi firman Allah dalam Surah Fathir ayat 31–33 serta sejumlah hadits shahih yang menggambarkan kemuliaan umat Muhammad ﷺ dan pentingnya tidak terpedaya oleh gemerlap dunia.

Pewaris Kitab yang Dipilih Allah

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ

"Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dari Al-Kitab itulah yang haq, membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya." (QS. Fathir: 31)

Kemudian Allah berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang lebih dahulu dalam kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar." (QS. Fathir: 32)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini menyebutkan tiga golongan umat Muhammad ﷺ, yaitu ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ (zhâlim li nafsih), مُقْتَصِدٌ (muqtashid), dan سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ (sâbiq bil khayrât).

Yang menarik, ketiganya disebut oleh Allah sebagai:

الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا

"orang-orang yang Kami pilih."

Menurut Ustaz Basran, ini menunjukkan besarnya rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.

Umat Terbaik dan Penghuni Terbanyak Surga

Keistimewaan umat ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah ﷺ:

أَنْتُمْ تُوفُونَ سَبْعِينَ أُمَّةً، أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلَى اللَّهِ

"Kalian adalah yang melengkapi tujuh puluh umat; kalian adalah yang terbaik dan paling mulia di sisi Allah."

(HR. Tirmidzi no. 3001 dan Ibnu Majah no. 4289)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa dari 120 shaf penghuni surga, 80 shaf berasal dari umat Nabi Muhammad ﷺ.

Karena itu, keistimewaan tersebut seharusnya melahirkan rasa syukur dan semangat beramal, bukan rasa aman yang membuat lalai.

Jangan Meremehkan Sesama Muslim

Ustaz Basran juga mengingatkan pentingnya husnuzan kepada sesama muslim. Bisa jadi seseorang yang tampak lalai termasuk golongan yang kelak bertaubat sebelum wafat. Sementara yang terlihat biasa-biasa saja mungkin merupakan hamba yang istiqamah hingga akhir hayat.

Karena itu, jangan mudah merendahkan kaum muslimin, sebab hanya Allah yang mengetahui bagaimana akhir perjalanan hidup seseorang.

Ketika Rasulullah ﷺ Memilih Tikar Kasar

Salah satu pelajaran paling menyentuh datang dari kisah Rasulullah ﷺ yang memisahkan diri dari istri-istrinya selama 29 hari.

Ketika Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu datang menjenguk beliau, Umar melihat bekas tikar yang membekas di tubuh Rasulullah ﷺ. Umar pun menangis mengingat para raja dunia hidup dalam kemewahan sementara Rasulullah ﷺ hidup sangat sederhana.

Maka Nabi ﷺ bersabda:

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟

"Apakah engkau tidak ridha jika dunia itu untuk mereka, sedangkan akhirat itu untuk kita?"

(HR. Bukhari)

Kalimat inilah yang menjadi inti dari kerinduan kepada akhirat. Padahal Rasulullah ﷺ memiliki hak atas seperlima ghanimah kaum muslimin, namun beliau memilih kehidupan yang sederhana dan menginfakkan hartanya untuk kepentingan umat.

Balasan bagi Pewaris Al-Qur'an

Setelah menyebut tiga golongan umat ini, Allah menjelaskan balasan mereka:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

"Surga 'Adn yang mereka memasukinya; di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera." (QS. Fathir: 33)

Menurut Ustaz Basran, Allah menggunakan kata:

يَدْخُلُونَهَا

"Mereka memasukinya."

Ini menunjukkan bahwa ketiga golongan tersebut memiliki janji surga selama meninggal dalam keadaan membawa Islam dan iman.

Iman yang Naik Turun

Beliau juga mengangkat kisah Hanzhalah radhiyallahu 'anhu yang merasa dirinya munafik karena merasakan perubahan kondisi iman setelah meninggalkan majelis Rasulullah ﷺ.

Maka Nabi ﷺ bersabda:

وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً

"Tetapi wahai Hanzhalah, ada saatnya dan ada saatnya."

(HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa naik-turunnya iman merupakan bagian dari kehidupan manusia di dunia. Namun kondisi tersebut hendaknya membuat seorang mukmin semakin merindukan akhirat, tempat di mana iman tidak lagi berkurang dan kenikmatan tidak lagi berakhir.

Qurban dan Latihan Melepaskan Dunia

Dalam momentum Iduladha, qurban menjadi sarana melatih hati agar tidak terlalu terikat dengan dunia.

Allah Ta'ala berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

"Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya dan tidak pula darahnya, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian." (QS. Al-Hajj: 37)

Qurban mengajarkan seorang mukmin untuk melepaskan apa yang dicintainya demi meraih keridhaan Allah, sebagaimana Nabi Ibrahim 'alaihissalam memberikan teladan yang agung dalam ketaatan.

Alarm Keras Akhir Zaman

Di akhir tausiah, Ustaz Basran mengingatkan hadits Rasulullah ﷺ:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ

"Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak lagi peduli dari mana ia mengambil sesuatu, apakah dari yang halal atau dari yang haram."

(HR. Bukhari)

Beliau juga membawakan sabda Nabi ﷺ:

يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

"Ia menjual agamanya demi secuil keuntungan dunia."

(HR. Muslim)

Karena itu, di tengah fitnah dunia yang semakin besar, seorang mukmin harus memiliki jangkar yang kuat, yaitu kerinduan kepada negeri akhirat.

Bangunlah Kerinduan Itu

Menutup tausiahnya, Ustaz Basran mengajak jamaah untuk terus membangun kerinduan kepada kampung akhirat. Setiap kali dunia memikat hati, ingatlah surga yang Allah janjikan. Setiap kali iman melemah, jadikan itu sebagai pengingat bahwa kehidupan yang sempurna belum berada di dunia ini.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba." (QS. Al-Muthaffifin: 26)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ dan mengakhiri kehidupan kita dengan husnul khatimah.

Wallahu a'lam bish-shawab.